Welcome to my blog
MAKALAH SEJARAH
HUBUNGAN PERKEMBANGAN
PAHAM-PAHAM BESAR DENGAN GERAKAN NASIONALISME DI ASIA AFRIKA

KELAS
: XI IPS 2
DISUSUN OLEH
:
1.
M. Misbahul munir
2.
Naufal F.
3.
Niken Dwi J.
4.
Nur Halimmah
5.
Nur laeli F.
6.
Nur sholihatur R.
7.
Nur Yuliana
SMA NEGERI 1
LASEM
TAHUN PELAJARAN 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang Masalah
Paham-paham besar merupakan sebuah
ideologi yang mempunyai pengaruh dan dampak yang sangat kuat kepada masyarakat
termasuk para penganutnya.Paham-paham dalam hal inilah tidak dipandang secara
abstrak tetapi harus mampu terukur terhadap kiprah eksistensinya, sehingga
tidak heran apabila Soekarno pernah mengatakan tentang perseteruan ideologi
besar dunia. Beliau mengutif mengemukakan: “Bertrand Russel pernah menulis,
bahwa di dalam sejarah manusia adalah dua dokumen historis yang sampai sekarang
menguasai alam-hati dan alam-fikirannya bagian-bagian besar dari umat manusia,
dan yang bersaingan hebat satu sama lain. Dan dokumen historis itu ialah
‘declaration of independence’ Amerika tulisan Thomas Jafferson, dan ‘Manifes
Komunis’ tulisan Karl Marx.” (Dibawah Bendera Revolusi. 1965. Hal: 329).
2. Rumusan Masalah
1)
Bagaimana
latar belakang lahirnya dan perkembangan paham - paham besar di Eropa ?
2)
Bagaimana
latar belakang paham-paham besar di Eropa masuk ke Indonesia ?
3. Tujuan Penulisan
1)
Untuk
mengetahui bagaimana latar belakang lahir dan perkembangan paham - paham besar
di Eropa.
2)
Untuk
mengetahui bagaimana latar belakang paham-paham besar di Eropa masuk ke
Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MUNCULNYA PAHAM-PAHAM BESAR
Munculnya kesadaran kebangsaan di
kawasan Asia dan Afrika pada masa lalu tidak terlepas dari pengaruh paham baru
yang lahir, yakni liberalisme, sosialisme, demokrasi, nasionalisme, dan
pan-Islamisme. Faham-faham tersebut mendorong rakyat Asia-Afrika untuk
membangun diri dalam kesadaran berbangsa dan bernegara dengan mengutamakan
kebebasan dan kemerdekaan.
Nasionalisme adalah suatu paham rasa cinta terhadap
bangsa dan tanah air yang ditimbulkan oleh persamaan tradisi yang berkaitan
dengan sejarah, agama, bahasa, kebudayaan, pemerintahan, tempat tinggal dan
keinginan untuk mempertahankan dan mengembangkan tradisinya sebagai milik
bersama dari anggota bangsa itu sebagai kesatuan bangsa.
Tokoh nasionalisme atau pencetusnya
adalah Joseph Ernest Renan, Otto Bouer, Hans Kohn, dan Louis Sneyder. Hans Kohn
berpendapat nasionalisme adalah kesetiaan tertinggi individu yang diserahkan
kepada bangsa dan negaranya. Munculnya nasionalisme dipengaruhi oleh hal-hal
berikut:
a. Magna Charta (1215) di Inggris yang kemudian
menjadi akar demokrasi.
b. Adanya Piagam Bill of Right (1689) di Inggris.
c. Revolusi Prancis yang menumbuhkan demokrasi dan
nasionalisme yang tercermin dalam
semboyan revolusi liberte, egalite, fraternite yang berkembang ke seluruh
Eropa.
d. Pengaruh pemikiran dari Renaissance.
Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, demos, artinya
rakyat, dan kratos, artinya pemerintahan. Jadi, demokrasi dalam arti sempit
adalah pemerintahan di tangan rakyat. Dalam arti luas, demokrasi adalah suatu
sistem pemerintahan yang mengakui hak segenap anggota masyarakat untuk ikut
memengaruhi keputusan politik baik langsung atau tidak langsung.
Kondisi yang memengaruhi terciptanya
demokrasi adalah adanya kesepakatan bersama dalam masalah yang fundamental dan
upaya yang memungkinkan kebebasan politik tumbuh di tengah negara. Demokrasi
mula-mula diterapkan di Yunani Kuno, yakni demokrasi langsung, kemudian
berkembang ke negara Eropa lainnya, dan akhirnya ke Indonesia.
Seorang cendekiawan dari Inggris
yang memperjuangkan demokrasi adalah John Locke (1632 – 1704), dalam bukunya
berjudul Two Treaties on Government. John Locke membenarkan perjuangan rakyat
Inggris menentang kekuasaan mutlak raja. Menurut John Locke, pemerintah
hanyalah alat yang dibentuk untuk menjamin kepentingan rakyat terhadap hak-hak
politis, mencakup hak individu, hak politik, hak atas kebebasan, dan hak milik.
Demokrasi merupakan hal yang dinamis
dan maju, sebab selain mengurus kepentingan bersama negara juga bertanggung
jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Demokrasi menuntut adanya UUD, pemilu,
kemerdekaan pers, kemerdekaan berbicara, berkumpul dan mengemukakan pendapat,
serta kemerdekaan beragama.
Sosialisme adalah paham yang
menghendaki suatu masyarakat yang disusun secara kolektif agar menjadi suatu
masyarakat yang sejahtera/bahagia. Kata sosialisme berasal dari bahasa Latin,
socius, artinya kawan. Tujuan sosialisme adalah mewujudkan masyarakat sosialis
dengan jalan mengendalikan secara kolektif sarana produksi dan memperluas
tanggung jawab negara bagi kesejahteraan rakyat. Tokoh pemikir sosialisme
adalah Robert Owen, seorang pengusaha Inggris yang menulis buku A New of
Society an Essay on the Formation of Human Character. Ia adalah orang yang
pertama menggunakan istilah sosialisme.
Tokoh lainnya adalah Saint Simon,
Piere Proudon, Charles Fourier, Karl Marx. Seorang yang dikenal sebagai Bapak
Sosialisme adalah Karl Marx dalam tulisannya Das Kapital yang mengatakan bahwa
sejarah masyarakat merupakan perjuangan-perjuangan kelas, semboyan mereka
"bersatulah kaum proletar sedunia." Titik berat dari paham ini adalah
pada masyarakat bukan individu, dan dalam hal ini sosialisme merupakan lawan
dari liberalisme.
Ada empat kesepakatan hasil
perjuangan kaum sosialis, yakni Chatolic Emancipation Bill (1892), Reform Bill
(1832), Factory Act (1833), dan Poor Law (1834). Teori Karl Marx dalam buku
Historis Materialisme mengatakan bahwa jalan sejarah ditentukan oleh material
secara dialektis (these – antithese – synthese) menuju suatu masyarakat yang
sosialis. Untuk mewujudkan masyarakat yang sosialis Karl Marx menciptakan
teori-teori sosialisme sebagai berikut:
a. Kelebihan harga (mehrwert)
Upah yang diterima oleh kaum buruh
tidak sebanding dengan tenaga yang disumbangkannya. Itulah sebabnya, kaum buruh
semakin lama semakin miskin dan kaum majikan semakin kaya.
b. Pemusatan (konzentration)
Perusahaan kecil akan mati karena kalah
bersaing dengan perusahaan besar, hingga akhirnya tinggal beberapa perusahaan
yang besar.
c. Penimbunan (akkumulation)
Semakin lama jumlah kapital semakin
menumpuk dan digunakan untuk membeli mesin yang mempunyai kapasitas sama dengan
tenaga manusia. Oleh karena itu, banyak kaum buruh yang di-PHK sehingga
menambah jumlah proletar.
d. Kesengsaraan (verelendung)
Jumlah kaum proletar yang tidak
mempunyai pekerjaan semakin bertambah sehingga kemiskinan pun bertambah. Hal
ini terjadi karena penggunaan tenaga mesin semakin banyak sehingga menyebabkan
kesengsaraan kaum proletar.
e. Krisis
Sebagian besar rakyat merupakan
proletar yang miskin dengan daya beli yang sangat rendah, sehingga
barang-barang pabrik tidak habis terjual. Akibatnya, timbul over produksi dan
krisis pun terjadi.
f. Keruntuhan (zusammenbruch)
Terjadinya krisis menyebabkan
runtuhnya susunan kapitalis sehingga kaum protelar kembali memegang kekuasaan
dengan semboyan "bersatulah proletar sedunia."
Pan-Islamisme adalah paham yang
bertujuan untuk menyatukan umat Islam sedunia. Paham ini berasal dari gagasan
Jamaluddin al Afgani (1839 – 1897). Ide tersebut sebenarnya secara samar-samar
pernah dicanangkan oleh At Tahtawi (1801 – 1873), seorang tokoh pembaharu Islam
Mesir. Ia sudah menyebutkan dua ide yaitu Islam dan patriotisme. Ia menegaskan
bahwa antara ide Islam dan patriotisme tidak bertentangan. Dua ide tersebut
kemudian menjelma menjadi dua bentuk persaudaraan, yaitu persaudaraan (ukhuwah)
Islamiah dan persaudaraan (ukhuwah) wathaniah.
Paham tentang perlunya penyatuan
dunia Islam yang menjadi inti dari Pan-Islamisme menjadi lebih tegas pada
pemikiran Jamaluddin al Afgani. Ide Pan-Islamisme erat kaitannya dengan kondisi
abad ke-19. Pada abad ini terjadi kemunduran di negara Islam. Sebaliknya, di
negara Barat terjadi kemajuan yang disertai pengembangan kekuasaan
(penjajahan).
Jamaluddin melihat penjajahan
terhadap negara Islam ini harus dilawan apabila mereka bersatu, contoh campur
tangan Inggris di Afganistan, di Mesir, di Irak, dan di Iran. Hal ini menambah
keyakinan bahwa Islam harus bersatu. Upaya penyatuan dunia Islam ini disebut
Pan-Islamisme.Pan-Islamisme sebagai ide telah memperoleh dukungan hampir dari
semua pemimpin Islam, tokoh intelektual. Pan-Islamisme memberi inspirasi bagi
negeri Islam untuk mengadakan gerakan nasional dalam melawan penjajahan.
Liberalisme merupakan paham yang
mengutamakan kebebasan dan kemerdekaan individu. Istilah liberalisme berasal
dari bahasa Latin, libertas, yang artinya kebebasan, sedangkan dalam bahasa
Inggris, liberty, artinya kebebasan. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan
individu untuk memiliki tempat tinggal, mengeluarkan pendapat, dan berkumpul.
Di Eropa, liberalisme didukung oleh
kaum borjuis dan terpelajar di kota. Bagian terpenting dalam liberalisme adalah
individu. Masyarakat harus mementingkan individu, karena masyarakat itu terdiri
atas individu-individu dan karena itu masyarakat adalah akibat dari adanya
individu. Kemerdekaan individu harus dijamin. Pada hakikatnya, paham
liberalisme ini timbul karena reaksi terhadap penindasan yang dilakukan oleh
kaum bangsawan dan kaum agama di zaman absolute monarchie. Orang ingin
melepaskan dirinya dari kekangan manusia, ini dikemukakan oleh Rousseau dalam
bukunya Du Contrat Sosial.
Terhadap kaum bangsawan, liberalisme menuntut
kemerdekaan ekonomi, sedangkan terhadap kaum agama liberalisme menuntut
kemerdekaan beragama. Dalam lapangan politik, liberalisme menuntut adanya
demokrasi (menuntut adanya UUD, pemilu, kemerdekaan pers, berbicara
mengemukakan pendapat, dan beragama). Selain demokrasi, liberalisme dalam
politik mengutamakan kemerdekaan (nasionalisme) negara atas individu, karena
setiap negara harus merdeka, tidak boleh ditindas oleh negara lain. Negara
berhak menentukan nasibnya sendiri.
2.2 Latar Belakang
Paham - Paham Besar di Eropa Masuk ke Indonesia
1.
Peranan
Pendidikan
Perkembangan pendidikan di Indonesia
terjadi sejak adanya Politik Etis, yang timbul akibat sehubungan dengan adanya
tragedi kemiskinan rakyat Indonesia pada abad ke-19 yang kemudian memunculkan
kritikan tajam yang diancarkan oleh orang-orang Belanda yang berbudi tinggi.
Mereka meminta pemerintah kolonial Belanda untuk melakukan progam Politik Etis.
Hal ini perlu dilaksanan di tanah jajahan dalam rangka membalas budi kebaikan
rakyatnya. Caranya dengan membantu meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan
rakyat jajahan. Progam peningkatan kesejahteraan dan balas budi tersebut
disebut Trias Politika yang meliputi bidang irigas, emigrasi dan edukasi.
Di bidang edukasi atau pendidikan
diberikan untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Pendirian-pendirian
sekolah dilaksanakan masih dengan setengah hati oleh pemerintah Belanda, yang
hanya bertujuan untuk kepentingan Belanda dan kelancaran pernjajahan di
Indonesia saja. Semua kegiatan di bidang pendidikan di awasi dan di kontrol
oleh pemerintah Belanda
2.
Peranan Pers
Indonesia
Pada abad ke-19, pers masuk ke
wilayah Indonesia dan sangat besar pengaruhnya. Wujud perkembangan pers itu
dalam bentuk surat kabar ataupun majalah. Munculnya surat kabar dimodali oleh
orang-orang Cina menggunakan bahasa Melayu. Surat kabar juga memuat isu-isu
politik yang sedang berkembang, sehingga secara tidak langsung telah banyak
memberikan pendidikan politik pada masyarakat Indonesia. Surat kabar berbahasa
Melayu berkembang sejak awal abad ke-20.
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Munculnya kesadaran kebangsaan di
kawasan Asia dan Afrika pada masa lalu tidak terlepas dari pengaruh paham baru
yang lahir, yakni liberalisme, sosialisme, demokrasi, nasionalisme, dan
pan-Islamisme. Faham-faham tersebut mendorong rakyat Asia-Afrika untuk
membangun diri dalam kesadaran berbangsa dan bernegara dengan mengutamakan
kebebasan dan kemerdekaan
3.2 saran
Dilihat dari penjelasan tentang
paham-paham besar , ternyata lahir dan berkembang paham-paham besartersebut
sangat berpengaruh terhadap dunia. Dan semoga kita mampu mejaga semua yang
telah diperjuangkan oleh para pejuang terdahulu
DAFTAR PUSTAKA
Daeng
Materu, Mohammad Sidky. 1985. Sejarah
Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia. Jakarta : PT. Gungung Agung
Suhartono.
1994, Sejarah Pergerakan Nasional, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Suparno,
Dwi. 1988, Paham-paham Besar Sejarah tentang Feodalisme, Liberalisme,
Kapitalisme, dan Imperialisme, Jember: Universitas Jember
Tidak ada komentar:
Posting Komentar